“Izinkan Bapak mencoba sekali lagi, Nak”.
Kalimat yang beberapa kali terucap.
Saat perasaan resah dan raut kecewa mulai hadir.
Satu rangkaian kalimat,
Yang mampu meredakan amarah.
Mampu menetralkan kecewa.
Mampu kembali menjadi manusia.
Tapi, kali ini saya juga gagal, Pak..
Terlalu sulit menjadi manusia.
Terlalu rumit bersinggungan dengan manusia.
Terlampau susah berdamai dengan diri sendiri.
Kemarin jiwa saya kembali terluka, Pak.
Hati saya kembali hancur.
Raga saya kembali rapuh.
Pikiran saya hampir mati terbunuh.
Mengapa menyalahkan diri sendiri terasa sangat ringan?
Juga diri ini terus-terusan merasa gagal.
“Kamu jangan menjadi sosok perempuan yang keras”.
Satu kalimat kembali menancap dalam benak.
Seolah anak kalimat ingin mengucap; Kamu harus jadi pribadi yang lebih baik dari Bapak, Nak.
Memori lama kembali terbuka.
Nilai ujian dengan digit 0 beberapa tahun silam.
Mampu membuat diri berdamai dengan perasaan gagal.
Terima kasih, Pak, Atas; Gakpapa nilainya jelek, Bapak tahu kamu sudah berusaha. Besok harus coba menjadi lebih baik lagi.
Hilang gemetar saya seketika.
Runtuh perasaan kacau yang tak berkesudahan.
Hati mana yang tak tersentuh saat masih dipandang, meski sudah gagal?
Izinkan saya juga mencoba sekali lagi, Pak..
Surabaya, 18 November 2019.
-di dalam kelas dengan perasaan sedih-